Persepsi Keliru #4 : Tokoh Panutan adalah Ulama atau Orang tua

Persepsi ini keliru. Panutan kaum muslimin hanya satu yaitu Rasullullah saw . Akibat persepsi yang keliru inilah banyak orang yang enggan mempelajari sejarah hidup Muhammad SAW. Mereka malas memahami hadist Beliau. Padahal, bagaimana mungkin kita dapat menjadikan Muhammad Rasulullah SAW sebagai tokoh panutan bila kita tidak “mengenal” Beliau.


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. - Al-Ahzab (33) : 21

“…ikulah dia ( Rasullullah ) supaya kamu mendapat petunjuk”. - Al - A’raaf (7) : 158



Banyak sekali keteladanan yang ditinggalkan oleh Rasullullah SAW yang dapat dijadikan sebagai contoh bagaimana seharusnya kita bersikap. Baik itu keteladanan dalam Hablumminallah , maupun keteladanan dalam Hablumminannas.


Orang yang berpendapat bahwa ulama adalah suri tauladan, suatu ketika tidak mustahil akan mengalami kekecewaan . Yaitu bilamana ulama yang diidolakannya itu melakukan kesalahan yang sebenarnya adalah kesalahan manusiawi biasa. 

Begitu juga yang menjadikan orang tua sebagai panutan. Bila orang tua itu berbuat salah, maka respeknya akan menurun. Selanjutnya bukan tidak mungkin ia akan berbuat zalim kepada orangtuanya. Kalau terjadi demikian, berarti ia telah melakukan dosa yang amat besar. Bukankah Allah mewajibkan agar kita selalu berbuat baik pada orang tua dalam kondisi apa pun?


Hal-hal yang diutarakan di atas, Insya Allah, tidak akan terjadi bila kita mempunyai persepsi bahwa yang menjadi panutan itu adalah hanya Rasulullah SAW. Kita akan dapat bersikap toleran bila ada ulama yang berbuat salah, ataupun kita akan tetap respek ketika orang tua kita tergelincir dalam perbuatan tercela. Bukankah mereka itu manusia seperti kita juga yang tidak luput dari kesalahan? Bukankah di akhirat nanti manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatan sendiri…?


*Dikutip dari buku Bahan Renungan Kalbu karya bapak Permadi Alibasyah, hal : 309 - 310


No comments