Persepsi Keliru #3 : Orang yang Sukses adalah Orang yang Banyak Harta

Sahabat,
Persepsi ini sangat tidak Islami. Pandangan seperti inilah yang menyebabkan manusia berlomba mati-matian mengejar materi. Masalah halal haram hanya sampai di bibir saja. Pendapat ini pula yang mengakibatkan seseorang iri hati melihat kemajuan temannya, ataupun rendah diri saat berhadapan dengan orang yang lebih kaya atau lebih tinggi pangkatnya. Tidak diragukan lagi persepsi inilah yang membuat seseorang cenderung menjadi penjilat.


“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dokehendaki-Nya tanpa batas.” - Al Baqarah : 212




Sahabat,
Pada hakikatnya kekayaan bukanlah ukuran kehebatan seseorang. Karena semnua orang bisa saja menjadi kaya bila diberi kesempatan  dan peluang yang sama. Hal ini sangat berbeda dengan ketakwaan. Tidak semua orang mampu bertakwa meskipun  diberi kesempatan dan peluang yang sama. Hanya orang0orang yang “hebat” saja yang bisa mengalahkan hawa nafsu/ setan yang menghasut untuk membangkang kepada-Nya. Oleh karena itulah orang yang sukses dan patut disegani adalah orang yang mampu memiliki ketakwaan yang tinggi. 


Firman Allah berikut mengisyaratkan hal tersebut :

… berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” - Al Hijr : 88

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk.” - Al Bayyinah : 7

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang0orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” - Ali Imran : 139


Sahabat,
Namun demikian, Islam tidaklah melarang umatnya untuk kaya. Yang dilarang oleh Islam adalah jangan sampai kekayaan itu membelenggu hati sehingga mengakibatkan mabuk dunia.
Kekayaan letaknya harus di tangan, bukan di hati. Dan fungsi harta semata-mata adalah untuk melancarkan pengabdian kepada-Nya, bukan sebaliknya malah mengkandaskan ketakwaan!



Sa’id Mas’ud berkata, “apabila engkau melihat seorang hamba yang semakin bertambah dunianya (kaya) dan berkurang akhiratnya (amalnya), sedang dia puas dengan hal itu, maka orang itu adalah tertipu dan dipermainkan tetapi ia tidak merasa”.

*Dikutip dari buku Bahan Renungan Kalbu oleh Permadi Alibasyah, hal : 307
No comments