DIZHOLIMI, Menguntungkan ataukah Merugikan ?

Sahabat,
Di keseharian, kita banyak berinteraksi dengan berbagai tipe manusia.
Masing-masing mereka memiliki persepsi dan sikap yang berbeda-beda.
Mulai dari lingkungan terdekat; keluarga, orang tua, pasangan, anak, mertua, rekan kerja, tetangga ataupun orang tak dikenal di jalan raya.
Mungkin tak jarang dari mereka yang bersikap tak nyaman, baik secara verbal maupun non verbal...


Jika kita tak menyadari hakikat siapa diri kita, sedang di mana dan hendak ke mana, maka sikap-sikap yang tak menyenangkan akan dengan mudah mengganggu ketenangan hidup, bahkan stress...


Manusia sejatinya bukanlah jasad yang tampak ini, yang hilang dalam hitungan bulan ketika telah tertimbun tanah kuburan.
Manusia adalah jiwa yang tak nampak, yang dahulu dikumpulkan di alam roh lalu dipindahkan (ditiupkan) ke alam janin...
Dari alam janin, kita berpindah ke alam dunia, alam babak penyisihan.
Alam yang menentukan bagaimana nasib kita di 2 alam berikutnya (barzah & akhirat).


Di dunia ini ajang pengujian, mana jiwa yang mampu tunduk patuh pada Allah.
Patuh untuk ikhlas saat ketidaknyamanan menimpa.
Patuh untuk sabar saat dizholimi, dll.
Seberapa kemampuan jiwa patuh pada Allah (Taat), sebesar itulah peluangnya mendapat pahala dan layak menempati SorgaNya...


Sahabat,
Saat seseorang menzholimi, hakikatnya ia sedang merugikan dirinya sendiri.
Bukankah setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di alam berikutnya...?
Saat kita dizholimi, bukankah itu menguntungkah bagi jiwa kita?
Karena ada yang telah rela membawakan pahalanya untuk kita dan diserahkan di akhirat nanti...


Saat kita dizholimi, bukankah itu menguntungkan bagi jiwa kita?Karena ketidaknyamanan adalah proses mempercantik jiwa... bukankah kita semua pernah merasakan ini?

Lalu...
Layakkah kita meronta saat dizholimi, sehingga stres, sakit hati bahkan dendam...?
Meronta atau tidaknya jiwa saat dizholimi memang bergantung kepada kualitas isi kalbu...
Jika yang mengisi kalbu adalah persepsi-persepsi lingkungan yang keliru, maka sabar saat dizholimi pastilah sulit...


Jika yang dimiliki adalah persepsi :
"Sabar ada batasnya"
"Kalau dibiarin nanti ngelunjak"
"Harga diri saya diinjak-injak", dll...
Pastilah jauhhh dari kemampuan Sabar...
Inilah sebagian racun-racun jiwa yang membuat kita sulit Sabar (Taat)

Namun jika yang dimiliki persepsi Qur'ani :
"Allah bersama orang yang sabar"
"Setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan"
"Akhirat itu ada"
"Allah dan malaikat mustahil silap dalam mencatat amal dan dosa", dll...
Niscaya Sabar tak lagi sebatas angan-angan...
Sehingga jiwa bisa merasakan :
"Semuanya wajar dan menguntungkan...

Dunia memang tempatnya jiwa diuji dengan kenyamanan dan ketidaknyamanan"

Salam
DBAS
(Dunia Bahagia Akhirat Sorga)

----
Silakan dibagikan jika bermanfaat ya, Sahabat...
2 comments

Alhamdulillah semakin terasa ya, bahwa dizolimi itu merugikan atau menguntungkn, ini tergantung apakah aku sudah mengenal siapa sejatinya diriku ini ?, tanpa mengenal diri sejati maka yang tampak saat dizolimi adalah satu kerugian yang besar, sehingga kepuasan sejati adanya saat mengadakan pembalasan ..., dan mendoakan yang buruk bagi sang penzalim ... , akhirnya tanpa kusadari dirikupun sudah jauh menyimpang dari jati diriku sebagai hamba bertakwa ... Astaghfirullah

Terima kasih sahabat sharing Rasanya...
Setiap peristiwa bisa di lihat dari banyak sudut pandang...
Dan orang yg paling beruntung adalah yg dpt melihat dari sudut pandang yg meningkatkan ketaqwaan dirinya...

Ternyata...
Yg "melihat dan membuat penilaian" itu bukanlah mata lahir tapi apa yg ada dalam kalbu...
Semakin selaras isi kalbu dengan persepsi2 Qur'ani semua peristiwa selalu terlihat wajar atau bahkan menguntungkan...
Dan taat pun menjadi mudah...

Salam DBAS