AGAR PUASA KITA TAK SIA-SIA

Sahabat,
Seperti halnya Sholat, ajaran/ perintah Puasa dari Allah kepada manusia yang mengimani memiliki Tujuan.

Jika kita ibaratkan dengan kursus memasak yang seluruh rangkaian ajaran-ajaran dalam kursus itu BERTUJUAN untuk menjadikan pesertanya handal dalam bidang memasak, maka demikian pula dengan Puasa. 

Allah SWT menjamin, siapapun yang berpuasa (menjalankan ajaran puasa ini dengan benar), PASTI ia menjadi manusia yang bertaqwa. 

Pertanyaannya :
Bagaimana bisa?

Jika puasa hanya sebatas menahan lapar dan haus, mustahil ia mampu membuat seseorang menjadi Taqwa. Mungkin bisa membuat langsing dan sehat. 
Namun bukan ini tujuan Allah menurunkan ajaran ini.


Puasa adalah Sarana dari Allah.
Selama kurang lebih 30 hari dibawaNya untuk kembali masuk dalam "orbit kemanusiaan", yaitu :

"mempuasakan kehendak diri, tidak sekedar mempuasakan kehendak perut, selama 30 hari ini hanya menjalankan kehendakNya saja"


Sahabat,Bayangkan, jika ini yang kita lakukan selama hampir 30 hari. Tentu menjadi manusia yang bertaqwa bukan?

Namun…
Setelah puluhan kali kita berpuasa, belum juga menjadi manusia yang taqwa (tunduk pada kehendak Allah), apa yang salah…?

Tak mungkin ajaran dari Zat Yang Maha Suci ini keliru…
Jiwa kitalah yang keliru memahaminya…

Menahan kehendak diri bukanlah perkara mudah…
Tapi juga bukan hal yang sulit…
Mudah atau sulit tergantung kepada kesadaran/ keyakinan yang ada dalam Kalbu kita…

Jika miskin kesadaran, maka tak mengherankan jika banyak yang : 
Tidak sahur (padahal Allah menghendaki kita sahur)
Menjadikan berbuka puasa sebagai pelampiasan selera (padahal Allah menghendaki untuk secukupnya)
Hanya tidur (padahal Allah menghendaki kita untuk beribadah aktif)

Sahabat,
Mari kita gunakan kesempatan ini untuk lebih banyak merenungkan isi Al quran, agar ia menjadi kesadaran-kesadaran Qurani dalam kalbu kita…
Agar berbuah menjadi KEMAMPUAN berpuasa :
“Menahan kehendak diri, hanya menjalankan kehendak-Nya saja”

2 comments

Jika 30 hari Allah mengkondisikan jiwaku kembali kepada Orbit Pengabdian, alangkah lucu jika diluar Ramadan aku justru menjauh lagi dari orbit...

Wajar jika ketentraman jiwa kelayang dan sorga tak didapat, karena hari2 berputar menjauh dari orbit...

Alhamdulillah ya .. Atas kasih sayang_Nya Allah telah memfasilitasi aku dengan satu bulan yang bernama Ramadhan.

Fasilitas yang mengembalikan aku dalam "orbit" ku yaitu sebagai pengabdi.

Tapi satu bulan jadi tidak ada artinya kalau aku tidak menyadari bahwa untuk kembali ke orbit butuh kemampuan kalbu berupa keyakinan2 illahiyah ...

Karena mempuasakan kehendk diri dan hanya menjalankan kehendak Allah semata ini adalah kemampuan kalbu, maka tanpa aku memiliki kemampuan yang memadai fasilitas yang Allah beri hanya akan menjadi kemubaziran bagiku.

Kemampuan kalbu hanya bisa aku dapatkan kalau aku bertafakur ..

Maka pantes saja Rasulullah saw sampai mengatakan betapa pentingnya bertafakur itu, karena dengan bertafakur , akan tumbuh keyakinan / kemampuan kalbu ...

Jadi biar puasaku mampu mengembalikanku ke "orbit"ku maka tafakur itulah jalannya ...

Berhenti tafakur artinya aku sedang berhenti memproses untuk masuk kedalam orbit Nya ...